Info Sekolah
Senin, 25 Mei 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Strategi SMKN 10 Semarang Hilangkan Tawuran Jadi Objek Riset Dua Siswa SMA Negeri 3 Semarang

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang-Upaya SMK Negeri 10 Semarang dalam menghapuskan praktik tawuran pelajar menarik perhatian dua peneliti muda dari SMA Negeri 3 Semarang. Mereka adalah Marcello Mariachi Baskara dan Arian Sandy Pratama, siswa kelas XI yang sejak April hingga Mei 2025 melakukan penelitian bertema Strategi Pencegahan Tawuran di SMKN 10 Semarang. Kegiatan riset ini merupakan bagian dari program “Research” yang dikembangkan SMA Negeri 3 Semarang untuk melatih keterampilan ilmiah siswa secara sistematis dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan pendidikan tinggi.

Marcello dan Arian memilih SMK Negeri 10 Semarang karena sekolah ini dinilai berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif dan bebas dari aksi kekerasan pelajar, meski berlokasi di kawasan yang sebelumnya dikenal rawan konflik antarpelajar. Dari hasil observasi awal, mereka mencatat bahwa kesuksesan sekolah ini tidak terlepas dari kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, sistem pembinaan yang menyeluruh, serta kolaborasi erat antara guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.

Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, menyambut hangat kedatangan kedua siswa tersebut. Ia menyatakan bahwa kehadiran mereka menjadi bentuk pengakuan terhadap kerja keras seluruh warga sekolah dalam menciptakan iklim pendidikan yang aman dan positif. “Kami merasa terhormat dan terbuka terhadap upaya penelitian seperti ini. Ini bukti bahwa kerja keras kami dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan aman mendapat perhatian,” ujar Ardan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (07/4).

Menurut Ardan, tantangan terbesar yang dihadapi beberapa tahun lalu adalah memutus siklus kekerasan yang sudah mengakar. Namun dengan pendekatan yang mengedepankan pembentukan karakter, penguatan layanan konseling, dan pengembangan ekstrakurikuler yang terarah, pihak sekolah perlahan berhasil mengubah pola pikir siswa. “Kami tidak hanya membenahi tata tertib, tapi juga membangun komunikasi yang kuat dengan siswa dan orang tua. Setiap anak punya potensi, dan tugas kami sebagai pendidik adalah membantu mereka menemukannya,” imbuhnya.

Dalam proses penelitian, Marcello dan Arian menggunakan pendekatan kombinasi antara wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Mereka mewawancarai guru bimbingan konseling, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, serta sejumlah siswa aktif. Dari temuan mereka, tampak jelas bahwa keberhasilan SMKN 10 Semarang juga didorong oleh penerapan aturan yang adil serta pendekatan humanis dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Yang membuat kami kagum adalah bagaimana sekolah ini tidak hanya menindak, tapi juga merangkul. Ada banyak dialog yang dilakukan, dan itu menciptakan rasa aman di kalangan siswa,” ungkap Marcello. Ia menambahkan bahwa atmosfer positif ini dirasakan sejak hari pertama mereka melakukan observasi di sekolah.

Sementara itu, Arian melihat pengalaman ini sebagai pelajaran berharga yang memperluas perspektifnya terhadap dunia pendidikan. Ia menilai bahwa mencegah tawuran bukan semata-mata soal larangan keras, tapi bagaimana membangun relasi yang sehat antara guru dan siswa. “Kami belajar bahwa mencegah tawuran bukan hanya soal larangan, tapi soal membangun relasi dan membentuk karakter. Dan itu perlu waktu serta komitmen bersama,” katanya.

Penelitian yang dijadwalkan selesai pada akhir Mei 2025 ini akan dipresentasikan dalam forum ilmiah di tingkat sekolah sebagai bagian dari penilaian akhir program. Pihak SMA Negeri 3 Semarang juga berencana mengikutsertakan karya ini dalam ajang lomba penelitian ilmiah remaja tingkat provinsi, sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat akademik kedua siswa tersebut.

Kepala SMA Negeri 3 Semarang menyampaikan kebanggaannya terhadap inisiatif yang dilakukan oleh Marcello dan Arian. Ia menekankan bahwa program “Research” memang dirancang tidak hanya untuk melatih teori, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam menjelajahi masalah nyata di lapangan. “Kami ingin siswa tidak hanya memahami metode penelitian, tapi juga mampu menyusun instrumen yang relevan, melakukan observasi yang jeli, dan menyusun laporan berkualitas. Ini bukan soal lomba semata, tapi soal membentuk cara berpikir ilmiah,” ujarnya.

Yuwana juga mengapresiasi keterbukaan SMK Negeri 10 Semarang dalam memberikan ruang belajar kepada siswa dari sekolah lain. Menurutnya, kolaborasi lintas jenjang seperti ini sangat penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan saling mendukung. “Apa yang dilakukan oleh SMK Negeri 10 Semarang patut dijadikan contoh. Sekolah ini tidak hanya fokus membenahi dirinya, tapi juga membuka diri untuk jadi laboratorium pembelajaran bagi orang lain,” pungkasnya.

Kemajuan SMKN 10 Semarang dalam menciptakan lingkungan sekolah bebas tawuran kini tidak hanya menjadi kebanggaan internal, tetapi juga sumber inspirasi. Penelitian yang dilakukan Marcello dan Arian menjadi bukti bahwa keteladanan dalam dunia pendidikan dapat menjadi bahan pembelajaran lintas institusi. Sekolah tak lagi hanya tempat belajar, tetapi juga ruang kolaborasi dan inovasi yang terus bergerak menuju kualitas pendidikan yang lebih baik dan berkarakter.

Penulis : Humas SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar