Info Sekolah
Minggu, 26 Apr 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Webinar Nasional Dorong SMK Terapkan BLUD untuk Bangun Budaya Korporasi dan Kemandirian Sekolah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Jakarta, 9 Juli 2025 — Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kembali menyelenggarakan webinar nasional bertema “Membangun Budaya Korporasi di SMK BLUD: Menjadi Sekolah Inovatif, Mandiri, dan Profesional”, Rabu (9/7). Kegiatan ini diikuti secara daring oleh ratusan kepala SMK negeri dari seluruh Indonesia melalui Zoom dan kanal YouTube Direktorat SMK.

Acara dibuka langsung oleh Direktur SMK, Ari Wibowo Kurniawan, yang menyampaikan pentingnya transformasi manajemen sekolah ke arah yang lebih profesional dan adaptif melalui penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Menurutnya, tantangan pendidikan vokasi saat ini semakin kompleks dan memerlukan pendekatan baru yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia industri dan masyarakat.

“Sekolah kita tidak bisa lagi berpikir dalam horizon lima tahunan yang terus berubah tanpa arah. SMK harus kembali ke ruhnya: mendidik siswa di lingkungan yang mereplika dunia kerja nyata. Maka, pendekatan BLUD dan budaya korporasi adalah keharusan,” tegas Ari Wibowo dalam sambutannya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang kuat di lingkungan sekolah. “Budaya korporasi bukan sekadar jargon, tetapi pondasi dalam membangun teaching factory yang efektif. Jika kita ingin menghasilkan lulusan yang siap kerja, maka SMK harus beroperasi seperti industri,” tambahnya.

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber strategis dari berbagai sektor. Salah satunya, Wahyuni Sri Lestari Ningsi dari Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, yang menjelaskan urgensi dan keuntungan penerapan BLUD bagi SMK negeri. Ia menyebutkan bahwa BLUD memberikan fleksibilitas anggaran, kesempatan investasi jangka pendek, serta keleluasaan merekrut tenaga profesional non-ASN.

“Dengan BLUD, pendapatan dari teaching factory tidak perlu disetor ke kas daerah, melainkan dapat langsung dikelola sekolah untuk pengembangan layanan pendidikan. Ini solusi nyata bagi SMK agar mandiri dan berdaya saing,” ujar Wahyuni.

Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa penerapan BLUD memerlukan tiga syarat utama: substantif (status UPTD), teknis (potensi dan kelayakan layanan), serta administratif (dokumen tata kelola, Renstra, laporan keuangan, dsb). “Tantangan terbesar tetap pada penyusunan regulasi dan kesiapan SDM. Tanpa itu, fleksibilitas BLUD tidak bisa dijalankan optimal,” katanya.

Sementara itu, Edi Susilo Darmawan, Direktur Akademi Komunitas Toyota Indonesia, mengungkapkan pentingnya membangun karakter dan budaya kerja dalam sistem pendidikan vokasi. Menurutnya, Toyota tidak hanya memproduksi mobil, tetapi juga berfokus pada pembangunan manusia.

“Di Toyota, kami percaya prinsip ‘We make people before we make product’. Untuk menghasilkan produk unggul, kami harus punya SDM unggul. Ini sejalan dengan konsep teaching factory dan BLUD di SMK,” jelas Edi.

Ia menambahkan bahwa 80% karyawan Toyota berasal dari lulusan SMK, dan sebagian telah naik menjadi manajer hingga direktur. Menurutnya, kolaborasi SMK dengan industri lokal menjadi kunci sukses dalam pengembangan teaching factory. “Buat kurikulum yang berbasis pada kebutuhan industri di sekitar Anda. Itulah strategi jangka panjang agar lulusan siap kerja,” sarannya.

Dari sisi praktik lapangan, Kepala SMK Negeri 2 Subang, Waliati Retno Ningsi, membagikan pengalaman sukses sekolahnya yang telah menerapkan BLUD sejak 2021. Ia menyebut bahwa seluruh kompetensi keahlian di sekolahnya telah memiliki teaching factory yang aktif dan menghasilkan produk atau jasa.

“Tanpa BLUD, teaching factory hanya sebatas praktik. Tapi dengan BLUD, hasilnya sah secara hukum dan bisa dikelola sebagai pendapatan sah sekolah. Tahun 2023, omset kami mencapai Rp 3,3 miliar. Tahun ini targetnya Rp 4,1 miliar,” ujar Retno dengan antusias.

Ia juga menyebut bahwa sekolahnya kini kerap menjadi rujukan nasional. “Selama tahun 2024, kami menerima kunjungan dari 98 sekolah dari berbagai provinsi. Ini bukti bahwa BLUD bukan hanya konsep, tapi bisa diwujudkan,” tegasnya.

Sebagai penutup sesi, Praditya Alambara, Senior Master Trainer PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, menyampaikan bahwa kolaborasi industri dan SMK akan berjalan jika sekolah mampu menunjukkan tiga hal utama: kualitas produk, ketepatan waktu (delivery), dan kepercayaan (trust).

“Industri butuh mitra yang bisa diandalkan. Kalau SMK bisa menjaga kualitas dan konsistensi, maka kemitraan akan tumbuh. SMK harus tahu kekuatan kompetensinya dan mengemasnya menjadi peluang bisnis pendidikan,” kata Praditya.

Webinar ini menjadi tonggak penting dalam mendorong lebih banyak SMK negeri untuk bertransformasi menjadi BLUD. Dengan fleksibilitas pengelolaan dan budaya korporasi yang kuat, SMK diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja secara profesional.

“Dengan BLUD, SMK tidak lagi menjadi beban anggaran, tetapi menjadi aset pembangunan,” pungkas Ari Wibowo.

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja Pusat Keunggulan SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar