Jakarta — Direktorat SMK, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) kembali meluncurkan program bantuan untuk pengembangan pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2025. Sosialisasi program tersebut dilaksanakan secara langsung melalui kanal YouTube Direktorat SMK pada Kamis, 19 Juni 2025, pukul 10.00 WIB hingga selesai, dan dipandu langsung oleh Sulistio Mukti Cahyono, salah satu pejabat di Direktorat SMK.
Program ini menyasar 1.100 SMK dengan total bantuan senilai Rp 100 juta per sekolah, yang diperuntukkan guna memperkuat pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) di SMK melalui berbagai strategi transformasi. Bantuan ini merupakan bagian dari lanjutan Program SMK Pusat Keunggulan (PK) yang telah dilaksanakan sejak 2021, dan kali ini lebih berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Dalam paparannya, Sulistio Mukti Cahyono menyampaikan bahwa latar belakang program ini didasari oleh hasil studi PISA terbaru dari OECD (2023) yang menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata global. Indonesia menempati peringkat 68 dari 81 negara, dengan skor Matematika 379, Sains 398, dan Membaca 371. “Hasil ini menjadi cermin bahwa pembelajaran di sekolah, khususnya di SMK, harus berubah. Tidak cukup hanya menyampaikan materi. Guru harus menjadi fasilitator yang mengaktifkan potensi siswa secara menyeluruh,” ungkap Sulistio.
Pendekatan pembelajaran mendalam yang ditawarkan mencakup berbagai aspek penting, seperti kolaborasi aktif dengan dunia industri, perencanaan pembelajaran berbasis pekerjaan nyata (okupasi), pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) dan masalah (Problem-Based Learning), serta pembelajaran berdiferensiasi yang memperhatikan minat dan gaya belajar siswa. Selain itu, integrasi teknologi digital juga menjadi perhatian utama untuk mendorong siswa berpikir kritis dan produktif dalam era ekonomi digital.
“Guru di SMK harus mulai menyusun pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tapi juga mendorong siswa membuat produk nyata, menyelesaikan masalah, dan berkolaborasi seperti di dunia kerja,” tambahnya. Menurut Sulistio, pendekatan seperti ini akan melahirkan lulusan SMK yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki daya saing tinggi.
Bantuan ini diperuntukkan bagi SMK yang telah memenuhi berbagai kriteria administratif dan teknis. Di antaranya, sekolah harus memiliki NPSN dan terdaftar di Dapodik, memiliki mitra kerja sama aktif dengan industri, serta telah mendapatkan surat dukungan dari SKPD yang membidangi pendidikan menengah kejuruan. Selain itu, sekolah yang memiliki akreditasi minimal B, sudah mengisi tracer study, dan memiliki prestasi nasional maupun internasional tiga tahun terakhir, akan mendapat prioritas.
“Bantuan ini juga diprioritaskan bagi SMK yang sudah berstatus BLUD, memiliki Teaching Factory (Tefa), serta mendukung kawasan industri nasional atau keunggulan wilayah. Ini agar dampak program bisa langsung terasa ke ekosistem ekonomi lokal,” kata Sulistio.
Menariknya, program ini juga mendorong partisipasi aktif sekolah dalam menyediakan dana pendamping melalui komite sekolah atau mitra industri, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mengembangkan mutu pendidikan vokasi. Evaluasi program juga dilakukan melalui pendekatan asesmen kinerja, portofolio, dan presentasi proyek yang mendorong siswa untuk menunjukkan kemampuan nyata, bukan hanya nilai akademik.
Salah satu kepala sekolah yang tertarik program ini adalah Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin. Ia menyatakan bahwa program ini akan menjadi momentum besar dalam membenahi pembelajaran di SMK. “Kami di SMKN 10 Semarang percaya bahwa pendekatan pembelajaran mendalam adalah kunci untuk menciptakan lulusan yang kompeten. Kami siap berbagi praktik baik dan mendampingi SMK lain yang ingin bertransformasi. Insya Allah SMK Negeri 10 Semarang berikhtiar mengajukan bantuan tersebut,” ujar Ardan.
Lebih lanjut, Ardan menegaskan bahwa guru adalah motor penggerak utama dalam proses transformasi ini. “Kurikulum boleh berubah, sarana boleh lengkap, tapi tanpa guru yang mau berubah dan terus belajar, semua hanya akan jadi dokumen. Guru harus menjadi inspirator dan pelatih dalam kelas,” tegasnya.
Dengan program ini, Kemdikbudristek berharap seluruh SMK di Indonesia dapat memperkuat pendekatan pembelajaran yang berorientasi masa depan. Seiring dengan tantangan global dan kebutuhan industri yang kian kompleks, SMK dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga siap menghadapi perubahan dan menjadi solusi bagi masa depan bangsa.
Sosialisasi yang digelar secara daring ini disambut antusias oleh para kepala sekolah dan guru SMK dari seluruh Indonesia. Dengan akses informasi yang terbuka, diharapkan sekolah-sekolah dapat mempersiapkan diri mengikuti seleksi penerima bantuan dan segera menyusun strategi pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan memberdayakan siswa.
Program Bantuan Pemerintah untuk SMK Tahun 2025 bukan sekadar dukungan dana, melainkan sebuah gerakan bersama menuju pendidikan vokasi yang lebih kuat, adaptif, dan relevan dengan tuntutan zaman.
Tayangan video bisa dilihat disini :
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja PK SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar