Info Sekolah
Senin, 27 Apr 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Direktorat SMK Gelar Apel Siaga Nasional, Dorong Implementasi Revitalisasi dan Project-Based Learning di Bidang Konstruksi

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Instansi

Jakarta-Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan Apel Siaga Nasional secara daring pada Jumat (9/5/2025) sebagai bagian dari upaya percepatan revitalisasi SMK di bidang keahlian Teknologi Konstruksi dan Bangunan. Kegiatan ini diikuti ratusan kepala sekolah, guru, dan perwakilan Dinas Pendidikan dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kegiatan dibuka oleh Direktur SMK, Ari Wibowo Kurniawan, dan turut dihadiri Kasubdit Sarana dan Prasarana serta Tata Kelola, Hernita. Dalam sambutannya, Ari menegaskan bahwa revitalisasi satuan pendidikan merupakan program prioritas nasional yang harus dimanfaatkan secara optimal, terutama oleh SMK dengan jurusan konstruksi dan bangunan.

“Program ini bukan sekadar membangun gedung. Ini adalah momentum emas untuk memastikan lulusan SMK benar-benar memiliki kompetensi nyata yang dibutuhkan dunia kerja dan industri,” tegas Ari dalam pidatonya. Ia juga menekankan pentingnya peran SMK dalam praktik pembangunan sarana pendidikan karena proyek ini memungkinkan keterlibatan langsung siswa melalui pendekatan Project-Based Learning (PJBL).

Mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan satuan pendidikan, telah dialokasikan anggaran sebesar Rp17,1 triliun untuk rehabilitasi, renovasi, dan revitalisasi 10.440 sekolah di seluruh jenjang pendidikan. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp2,76 triliun dialokasikan khusus bagi 767 SMK, baik negeri maupun swasta.

Dalam laporannya, Hernita menyampaikan bahwa sekitar 400 SMK yang memiliki jurusan konstruksi bangunan telah diundang untuk berpartisipasi. “Kami berharap melalui program ini, akan tercipta model pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual, kolaboratif, dan produktif,” ujarnya.

Ketua Tim Kerja Tata Kelola dan Perizinan, Novi, menjelaskan secara rinci mekanisme pelaksanaan PJBL dalam konteks revitalisasi sekolah. Ia menyebutkan bahwa pendekatan ini tidak hanya menekankan keterlibatan siswa dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek, tetapi juga dalam pelaporan, dokumentasi, hingga presentasi hasil kerja.

“Yang kita dorong adalah kolaborasi antarjurusan dan antar-SMK. Misalnya, siswa dari jurusan Teknik Konstruksi bisa bekerja sama dengan jurusan DKV untuk membuat desain 3D atau dokumentasi visual proyek. Bahkan jurusan kuliner bisa berperan dalam penyediaan konsumsi harian di lokasi proyek,” kata Novi.

Partisipasi siswa dilakukan dengan pengawasan ketat dari guru pembimbing dan tidak dalam konteks tenaga kerja murah. “Kami sangat hati-hati agar tidak ada kesan eksploitasi. Ini adalah pembelajaran, bukan penugasan kerja,” tegas Hernita.

Salah satu peserta, Anugrah Ramadani dari SMKN 2 Samarinda, menyampaikan antusiasmenya terhadap program ini. “Anak-anak kami kesulitan mendapat proyek nyata untuk praktik. Program ini menjawab kebutuhan kami,” katanya. Ia juga berharap ada regulasi resmi dari pusat agar keterlibatan SMK dalam proyek revitalisasi mendapat legitimasi kuat.

Menanggapi hal ini, Hernita menjelaskan bahwa guru dengan kualifikasi tertentu, seperti pemegang SKA atau SKK, dapat turut menjadi tim perencana atau pengawas proyek di SMK penerima bantuan. “Itu justru nilai tambah. Asal sesuai ketentuan dan peran, keterlibatan guru dan siswa sangat kami dorong,” jelasnya.

Novi juga menambahkan bahwa Direktorat SMK akan memfasilitasi pemetaan jurusan dan lokasi sekolah untuk kolaborasi lintas satuan pendidikan. “Nanti akan dibentuk grup komunikasi dan daftar kehadiran online untuk mencocokkan keahlian dan lokasi. Semangatnya adalah oleh SMK, untuk SMK,” katanya.

Dalam sesi diskusi, berbagai sekolah dari daerah seperti Makassar, Kandangan, hingga Banjarbaru menyampaikan pertanyaan seputar fleksibilitas jurusan yang bisa terlibat, mekanisme koordinasi, serta bentuk kontribusi siswa dari berbagai keahlian, termasuk teknik pengelasan, listrik, hingga DKV. Semuanya dijawab dengan lugas dan terbuka oleh narasumber.

“Silakan libatkan lebih dari satu kompetensi keahlian. Justru semakin banyak, semakin baik. Proyek revitalisasi bukan hanya pekerjaan sipil. Ada dokumen desain, pemasaran, dokumentasi visual, dan lainnya. Semua bisa masuk sesuai konteks,” ungkap Novi.

Apel Siaga ini menjadi penanda seriusnya Direktorat SMK dalam menggerakkan revitalisasi pendidikan vokasi secara sistemik dan partisipatif. Selain meningkatkan kualitas sarana prasarana, pendekatan PJBL juga menjadi wahana nyata pembelajaran lintas keahlian bagi siswa. Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, SMK diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap beradaptasi dengan kebutuhan industri masa kini dan masa depan.

Paparan video bisa dilihat disini :

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja PK SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar