Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Direktorat SMK Gelar Webinar Series Teaching Factory 2025, Dorong Budaya Industri di Sekolah

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Instansi

Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi resmi membuka rangkaian Webinar Series Teaching Factory (TEFA) 2025, sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat implementasi pembelajaran berbasis industri di SMK seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Direktur SMK, Ari Wibowo Kurniawan, pada awal Juni 2025 dan dihadiri ratusan kepala sekolah serta guru dari berbagai wilayah melalui siaran langsung.

“Teaching factory ini bukan sekadar metode pembelajaran, tetapi strategi transformasi SMK menjadi institusi yang mendekati replika industri. Maka budaya industri pun harus tumbuh di dalam sekolah,” ujar Ari dalam sambutannya, Rabu (5/6).

Webinar ini menjadi bagian dari persiapan program bantuan pemerintah tahun 2025, di mana sekolah penerima bantuan diwajibkan mengikuti keseluruhan seri webinar yang terdiri dari delapan sesi. Seri ini dirancang tidak hanya sebagai syarat administratif, tetapi juga sebagai media pembelajaran menyeluruh yang melibatkan para pakar industri, startup, dan pendamping bisnis.

“Kami tidak ingin dana bantuan hanya habis digunakan lalu selesai. Harapan kami, dari SMK akan tumbuh startup-startup baru dan lahir wirausaha muda. Ini bukan tentang proyek sesaat, melainkan ekosistem berkelanjutan,” imbuh Ari.

Teaching factory atau TEFA merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pengalaman industri ke dalam sekolah. Melalui pendekatan ini, siswa SMK tidak hanya belajar teori dan praktik, tetapi juga memproduksi barang atau jasa yang langsung dipasarkan ke masyarakat, dengan standar mutu dan sistem manajemen seperti di dunia usaha.

Mas Fendi, narasumber sekaligus praktisi pendidikan dari Solo, memaparkan bahwa teaching factory menjadi dual system khas Indonesia, menyandingkan praktik di sekolah dan dunia industri. “Kalau Jerman punya dual system, Indonesia punya teaching factory. Kuncinya adalah produk yang nyata, diterima pasar, dan pembelajarannya berjalan kontinu,” terang Mas Fendi.

Menurutnya, agar TEFA berjalan optimal, sekolah harus memiliki budaya korporasi yang melekat. Hal ini bisa dicapai melalui perubahan status kelembagaan, terutama bagi SMK negeri, dari satuan kerja (satker) menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). “Tanpa transformasi kelembagaan, sulit mewujudkan budaya industri di sekolah. Ini syarat mutlak,” tegas Ari.

Selain itu, siswa harus aktif terlibat dalam proses produksi. “Siswa harus yang memproduksi, bukan sekadar menjadi penonton. Profesional boleh terlibat, tetapi hanya sebagai pendamping dan akselerator,” ujar Fendi menambahkan.

Dalam sesi berikutnya, Mas Alwin Parahita yang memandu jalannya webinar, menegaskan pentingnya proposal bisnis yang matang dari SMK untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Ia memperkenalkan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat bantu utama dalam mengembangkan ide produk hingga ke tahapan pemasaran. “Mulailah dari value proposition, pahami siapa target pelanggan, dan rancang strategi pemasaran yang tepat. BMC ini alat bantu yang konkret dan mudah dipahami,” jelas Alwin.

Webinar ini juga memberikan contoh nyata pengembangan teaching factory di daerah terpencil. Salah satunya adalah konsep Merapi Ecotourism, gagasan bisnis dari SMK yang berada di lereng Merapi. Lewat pendekatan ini, sekolah menjual pengalaman wisata dengan nilai edukasi dan budaya lokal. “Ini bukti bahwa keterbatasan lokasi bukan penghalang. Justru bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan cerdas,” kata Alwin.

Peserta webinar pun aktif bertanya dan berbagi pengalaman. Salah satu peserta dari SMK Jatiroto yang dekat dengan pabrik gula, menanyakan bagaimana pendekatan teaching factory bisa diterapkan ketika jurusan sekolah tidak sejalan langsung dengan industri sekitar. Mas Fendi menanggapi, “Mulailah dengan pendekatan. Kenali kebutuhan industri, jangan hanya menunjukkan apa yang kita bisa. Bangun komunikasi, seperti pendekatan saat ingin naksir seseorang, harus sabar dan strategis.”

Webinar juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarjurusan dalam sekolah dan antar-SMK. Program teaching factory kolaborasi memungkinkan SMK besar menjadi mentor bagi SMK kecil di sekitarnya. “Kolaborasi adalah kuncinya. Jangan kerja sendiri. Ajak SMK lain, dunia usaha, bahkan desa setempat. Ini bisa jadi ekosistem yang luar biasa,” ujar Alwin.

Menjelang akhir sesi, peserta diingatkan bahwa program bantuan pemerintah ini bersifat kompetitif dan transparan. Semua pengajuan proposal akan dikurasi oleh tim ahli yang berasal dari pelaku industri dan bisnis. “Proposal yang menarik bukan yang panjang, tapi yang konkret, jelas, dan menunjukkan potensi bisnis yang berkelanjutan,” tegas Ari.

Melalui webinar ini, Direktorat SMK berharap terjadi perubahan paradigma di sekolah-sekolah vokasi: dari sekadar tempat belajar menjadi institusi pencetak inovasi dan penggerak ekonomi lokal. “Mari kita buktikan bahwa SMK benar-benar bisa. SMK hebat, SMK kuat, dan SMK siap menyongsong masa depan,” pungkas Ari disambut tepuk tangan para peserta.

Dengan semangat teaching factory yang terintegrasi dan kolaboratif, masa depan pendidikan vokasi Indonesia tampaknya semakin menjanjikan. Dukungan penuh dari pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan generasi yang kompeten, berdaya saing, dan mandiri.

Paparan video bisa dilihat disini :

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja PK SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar