Jakarta — Webinar internasional bertajuk “AI and Software for Vocational Education: Strategic Steps Toward Relevant and Adaptive Learning” digelar pada Rabu, 11 Juni 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia bekerja sama dengan Korean Research Institute for Vocational Education and Training (KRI-VET). Acara ini menghadirkan para ahli dari Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand untuk membahas strategi pendidikan vokasi di tengah kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) dan perangkat lunak digital.
Latar belakang penyelenggaraan webinar ini adalah kesadaran akan tuntutan Revolusi Industri 4.0 yang mengharuskan dunia pendidikan beradaptasi dengan cepat. Dunia kerja kini mencari tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga cakap menggunakan teknologi digital dan mampu berpikir adaptif. Oleh karena itu, transformasi pendidikan vokasi menjadi penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri.
Dalam paparannya, Prof. Jay Huang Lee dari Hanam University Korea menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan perangkat lunak sejak dini. “Perangkat lunak adalah puncak solusi pengetahuan yang dicapai oleh umat manusia. Pendidikan berbasis komputasi dan coding perlu dimulai sejak usia sekolah dasar agar generasi muda siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Implementasi teknologi juga diperkenalkan melalui pengalaman smart farming atau pertanian pintar berbasis IoT dan AI. Mr. Cha Juang Li dari Korea BioMaster High School memaparkan bagaimana sekolahnya mengintegrasikan sistem pertanian cerdas ke dalam kurikulum. Teknologi seperti sensor suhu, pengendalian iklim otomatis, serta monitoring tanaman lewat smartphone, mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
“Konsep pertanian pintar membuka peluang besar bagi SMK bidang pertanian di Indonesia untuk mentransformasi pembelajaran menjadi lebih aplikatif dan relevan,” jelasnya.
Dari Indonesia, Bapak Topik Damarjati dari Kementerian Pendidikan menjelaskan bahwa mulai tahun ajaran 2024/2025, coding dan AI telah diperkenalkan sebagai mata pelajaran pilihan di tingkat dasar dan menengah. “Kami ingin membentuk siswa menjadi problem solver dengan literasi digital yang tinggi. Ini adalah pondasi penting bagi karier mereka di masa depan,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun pedoman etika penggunaan AI dalam pembelajaran, agar teknologi tidak hanya dimanfaatkan secara efektif, tetapi juga bertanggung jawab.
Kepala SMK Negeri H. Moenadi Ungaran, Imroatul Azizah, turut membagikan pengalamannya dalam mengembangkan pertanian berbasis teknologi di sekolahnya. Melalui kerja sama dengan Indra Agri, sekolah tersebut membangun rumah kaca hidroponik untuk budidaya melon premium dengan sistem kontrol cerdas berbasis AI.
“Pengalaman langsung siswa dalam menggunakan teknologi canggih membuat mereka lebih siap masuk ke dunia kerja. Ini bukan hanya soal hasil panen, tapi soal membangun kompetensi,” ujar Imroatul.
Dalam sesi diskusi, muncul sejumlah pertanyaan dari peserta asal Thailand dan Indonesia, seperti cara mengembangkan aplikasi AI secara efektif, bagaimana menyesuaikan kurikulum SMK dengan era digital, hingga tantangan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan karakter siswa.
Menanggapi hal itu, Dr. Yang Sang Kim dari KRI-VET menyampaikan pandangannya. “Teknologi tidak boleh menggantikan aspek humanis dalam pendidikan, seperti seni, empati, dan kerja sama. Sekolah tetap harus menjadi tempat untuk mendidik manusia seutuhnya, bukan hanya operator mesin,” ujarnya menegaskan.
Webinar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya: penerapan kurikulum coding dan AI secara bertahap mulai dari SD hingga SMK, pelatihan guru dalam penggunaan teknologi pendidikan, kerja sama internasional untuk benchmarking, serta pengembangan platform pembelajaran digital bagi siswa dan guru.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Indonesia dalam penutupan webinar menyatakan komitmennya terhadap transformasi pendidikan. “Kami percaya bahwa pendidikan harus berkembang seiring dengan zaman. Dan hari ini, itu berarti mengadopsi digitalisasi dan kecerdasan buatan,” tegasnya.
Webinar ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antarnegara dapat memperkuat pendidikan vokasi sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia unggul, inovatif, dan relevan di era digital.
Liputan lengkap bisa dilihat disini :
Penulis : Nur Kholifah, Guru Bahasa Jepang SMK Negeri 10 Semarang.






Users Today : 729
Users Yesterday : 812
This Month : 20151
This Year : 132610
Total Users : 783692
Views Today : 1846
Total views : 3936362
Who's Online : 3





Beri Komentar